Budidaya bandeng (Chanos chanos) merupakan salah satu sektor perikanan yang penting di Indonesia. Kualitas air dalam tambak memainkan peran krusial dalam keberhasilan produksi bandeng. Salah satu indikator kualitas air yang penting adalah konsentrasi klorofil-a yang dapat digunakan untuk memperkirakan produktivitas primer di perairan tambak. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan konsentrasi klorofil-a pada tambak bandeng tradisional dan intensif menggunakan citra satelit Landsat 8. Data citra Landsat 8 diolah menggunakan algoritma OC3 untuk mengestimasi konsentrasi klorofil-a. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi klorofil-a pada tambak bandeng intensif cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan tambak tradisional, yang mencerminkan tingkat produktivitas primer yang lebih tinggi pada sistem intensif. Perbedaan ini berkaitan dengan praktik manajemen budidaya yang berbeda antara kedua sistem, termasuk pemberian pakan dan manajemen kualitas air yang lebih intensif pada sistem budidaya intensif. Penelitian ini menunjukkan potensi penggunaan citra satelit Landsat 8 untuk monitoring kualitas air pada tambak budidaya bandeng secara efisien dan ekonomis.
Kata kunci: Klorofil-a, Bandeng, Tambak Tradisional, Tambak Intensif, Landsat 8
Indonesia merupakan negara kepulauan dengan potensi perikanan yang besar, salah satunya adalah budidaya bandeng (Chanos chanos). Bandeng merupakan jenis ikan yang populer dan bernilai ekonomis tinggi di Indonesia. Budidaya bandeng di Indonesia dilakukan dengan berbagai sistem, mulai dari sistem tradisional yang mengandalkan produktivitas alami hingga sistem intensif dengan manajemen tingkat tinggi.
Tambak bandeng tradisional umumnya memiliki luas area yang besar dengan penggunaan input pakan alami minimal, mengandalkan produktivitas primer dari ekosistem perairan untuk mensubstansi pertumbuhan ikan. Sebaliknya, tambak bandeng intensif memiliki padat tebar yang lebih tinggi dengan pemberian pakan komersial dan manajemen kualitas air yang lebih intensif.
Klorofil-a adalah pigmen utama yang terdapat dalam fitoplankton dan berperan dalam proses fotosintesis. Konsentrasi klorofil-a dalam perairan dapat digunakan sebagai indikator produktivitas primer dan sekaligus sebagai indikator kualitas air Tingginya konsentrasi klorofil-a menunjukkan ketersediaan nutrien yang melimpah yang mendukung pertumbuhan fitoplankton, yang merupakan komponen penting dalam rantai makanan di ekosistem tambak.
Penelitian ini dilakukan di dua lokasi budidaya bandeng yang berbeda sistemnya, yaitu tambak bandeng tradisional dan tambak bandeng intensif. Tambak bandeng tradisional terletak di Kabupaten Kendal, Provinsi Jawa Tengah, sedangkan tambak bandeng intensif berlokasi di Kabupaten Lamongan, Provinsi Jawa Timur. Kedua lokasi dipilih berdasarkan representativitas sistem budidaya bandeng di Indonesia.
Data citra satelit yang digunakan dalam penelitian ini adalah citra Landsat 8 Operational Land Imager (OLI) dengan resolusi spasial 30 meter. Citra Landsat 8 diperoleh dari USGS Earth Explorer dengan kurung waktu pengambilan data pada musim kemarau untuk meminimalkan pengaruh tutupan awan. Sensor OLI pada Landsat 8 memiliki kemampuan untuk merekam radiasi reflectansi pada beberapa band spektral yang relevan untuk pemantauan klorofil-a, termasuk band biru, hijau, dan merah.
Pengolahan citra Landsat 8 dilakukan melalui beberapa tahapan, meliputi:
Berdasarkan hasil analisis citra Landsat 8, konsentrasi klorofil-a pada tambak bandeng tradisional bervariasi antara 4,2 - 12,8 mg/m dengan rata-rata 7,5 mg/m. Variasi ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, termasuk pergantian air yang bergantung pada pasang-surut, input nutrien dari aliran air masuk, dan tingkat produktivitas primer dari ekosistem alami tambak.
Hasil pengolahan citra Landsat 8 menunjukkan bahwa konsentrasi klorofil-a pada tambak bandeng intensif berkisar antara 8,7 - 22,4 mg/m dengan rata-rata 14,2 mg/m. Konsentrasi klorofil-a yang lebih tinggi pada sistem intensif berkaitan dengan pemberian pakan komersial yang rutin dan padat tebar ikan yang lebih tinggi, menyebabkan akumulasi nutrien dan meningkatkan produktivitas primer.
Gambar 1. Grafik perbandingan konsentrasi klorofil-a antara tambak bandeng tradisional dan intensif
Berdasarkan hasil analisis, terdapat perbedaan signifikan (p<0,05) antara konsentrasi klorofil-a pada tambak bandeng tradisional dan intensif. Tambak bandeng intensif memiliki konsentrasi klorofil-a yang hampir dua kali lebih tinggi dibandingkan dengan tambak tradisional. Hal ini mencerminkan perbedaan secara signifikan dalam manajemen budidaya dan tingkat produktivitas antara kedua sistem.
| Parameter | Tambak Tradisional | Tambak Intensif | Perbedaan Signifikan |
|---|---|---|---|
| Konsentrasi Klorofil-a (mg/m) | 7,5 2,3 | 14,2 3,8 | Ya (p<0,05) |
| Padat Tebar Ikan (ekor/ha) | 5.000 - 10.000 | 20.000 - 30.000 | Ya |
| Pemberian Pakan | Alami | Komersial | Ya |
Pemberian pakan komersial pada tambak bandeng intensif memberikan kontribusi terbesar terhadap peningkatan konsentrasi klorofil-a. Pakan komersial yang tidak dikonsumsi langsung oleh ikan akan terurai dan memasok nutrien (terutama nitrogen dan fosfor) ke dalam kolom air, yang kemudian merangsang pertumbuhan fitoplankton. Sebaliknya, pada tambak tradisional, ketersediaan nutrien bergantung pada masukan dari ekosistem alami dan aliran air dari perairan sekitar.
Konsentrasi klorofil-a yang lebih tinggi pada sistem intensif menandakan produktivitas yang lebih tinggi, namun juga mengindikasikan potensi masalah kualitas air jika tidak dikelola dengan baik. Peningkatan mendadak konsentrasi klorofil-a dapat menyebabkan fluktuasi oksigen terlarut, terutama pada malam hari ketika respirasi fitoplankton mendominasi. Oleh karena itu, pengelolaan tambak intensif memerlukan monitoring kualitas air yang lebih ketat dan sering.
Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa:
Chen, Z., Muller-Karger, F.E., & Hu, C. (2007). Remote sensing of water color in coastal waters: a case study in Florida Bay. Remote Sensing of Environment, 109(1), 67-77.
Effendi, H. (2003). Telaah kualitas air untuk pengelolaan sumber daya dan lingkungan perairan. Kanisius, Yogyakarta.
Mohammad, B.G., & Ahmed, M.H. (2020). Water quality monitoring and mapping of Burullus Lake using Landsat 8 OLI imagery. Egyptian Journal of Aquatic Research, 46(2), 113-122.
Nuruddin, M.A., & Sulistiyono, T. (2015). Budidaya bandeng tradisional dan intensif: kajian produktivitas dan keberlanjutan. Jurnal Perikanan dan Kelautan, 7(2), 89-97.
O'Reilly, J.E., Maritorena, S., Mitchell, B.G., Siegel, D.A., Carder, K.L., Garver, S.A., Kahru, M., & McClain, C. (1998). Ocean color chlorophyll algorithms for SeaWiFS. Journal of Geophysical Research: Oceans, 103(C11), 24937-24953.
Putra, A. (2018). Analisis kandungan klorofil-a pada perairan tambak menggunakan citra satelit Landsat 8. Skripsi S1, Institut Pertanian Bogor.
Riyadi, A. (2020). Dampak budidaya intensif terhadap kualitas lingkungan tambak. Jurnal Sumberdaya Perikanan, 12(1), 45-55.
